Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2018

Nasya #10



“Jangan dengarkan perkataan negatif dari orang lain. Kamu adalah kamu!”

            Nasya menghembuskan nafasnya. Ada sedikit rasa lega yang menghampirinya. Mata kuliah pertama sudah usai sejak beberapa menit yang lalu. Gadis itu senang karna untuk pertama kalinya ia berani bertanya dan mengutarakan pendapatnya dihadapan teman-temannya. Walau awalnya memang deg-degan setengah mati, tapi setelah berhasil rasanya lega banget.
            Sempat sih tadi diliriknya tatapan sinis beberapa orang temannya termasuk Atar, tapi mereka bisa apa kalau ada dosen kan? Ini masa kuliah. Waktu untuk aku nunjuin siapa aku sebenarnya, biar mereka tau bahwa aku bukan orang yang pantas untuk diremehkan. Semangat Nasya! Semangat untuk semua impian-impianmu!
Gadis yang kini memakai bando ungu muda itu tersenyum, lalu kemudian melangkahkan kakinya keluar kelas. Tujuan gadis itu adalah perpustakaan. Mata kuliah pertama dan langsung disuruh buat laporan, luar biasa bukan?
“Heh pincang!” Sebuah suara menahan gerak Nasya. Gadis itu tertegun sesaat, lalu kembali berjalan seakan-akan mencoba untuk tidak mendengar ucapan itu. “Ih udah pincang, budek lagi.” Masih suara yang sama. Tentu saja suara yang sangat familiar ditelinga Nasya. Suara Atar. 

Nasya #9



“Bermimpilah. Karna Tuhan akan memeluk mimpimu. (Andrea Hirata)

            Nasya mendelik kesal tepat didepan mading. Berkali-kali ia baca pembagian kelas itu tetap saja hasilnya sama. Ia sekelas dengan Atar. Mimpi buruk macam apa lagi ini? Nasya menghembuskan  nafas, lalu berjalan terpincang-pincang menuju bangku yang berada tak jauh dari mading. Bayangan wajah Atar membuntutinya, membuat gadis itu semakin merasa tak enak.
            Lagi-lagi entah untuk yang keberapa kalinya, orang-orang disekitar Nasya menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Gadis itu kembali menghembuskan nafas kesal. Bisa nggak sih mereka nggak usah pakai ngelihatin aku segala.
            “Geser. Mau duduk nih!” Seorang cowok tiba-tiba datang dan langsung duduk disamping Nasya, membuat gadis itu mau tak mau bergeser dari duduknya. “Udah lihat pengumuman kelas?” Cowok itu lagi-lagi bertanya kepada Nasya dengan seringai khasnya. Nasya menatap cowok itu dengan tatapan kesal. Rasanya, Nasya pengen banget ngecakar muka cowok disampingnya itu.
            “Udah,” jawab Nasya ketus. “Nggak nyangka ya Sya kita sekelas lagi. Gue senang deh!” Atar bersungut sembari tersenyum sinis. “Welcome to the hell. Ingat kejadian dulu kan? Atau apa perlu gue ingetin?” Atar berbisik tepat ditelinga Nasya, membuat gadis itu memundurkan kepalanya beberapa centi meter.

Nasya #8



Selalu ada jalan menuju roma. Jika satu jalan tertutup dihadapan lo, percayalah masih ada jalan lain yang terbuka. Keep spirit! –DaviGantengSedunia

            Nasya tersenyum menatap SMS yang masuk ke ponselnya. Dari Davi. Ah, tu cowok! Gadis itu meraih buku bersampul coklat yang diberikan Davi saat pertemuan mereka yang kedua. Lagi-lagi Nasya menyungging senyum manisnya. Menciptakan senyum pipit diwajahnya.
            “Sya.” Andi sudah berdiri diambang pintu kamar Nasya sembari menatap sang putri dengan tatapan aneh. “Eh ayah? Kenapa?” Nasya meletakkan buku motivasi diatas meja dan berjalan menghampiri ayahnya.
            “Kamu ngapain senyum-senyum tadi? Hayo! Cerita dong sama ayah.” Pipi Nasya bersemu merah, tentu saja hal itu diketahui oleh Andi. “Ah apaan sih Yah. Nggak ada apa-apa kok.” Nasya menunduk. Mencoba menyembunyikan wajahnya dari tatapan selidik Andi.
            Nasya bukannya tak percaya dengan Andi untuk menceritakan semua yang ia alami, hanya saja bagi Nasya itu belum terlalu penting.  “Bener? Dari tadi ayah panggilin kok nggak nyahut?”
            “Eng. Nggak kok Yah. Lagi mikirin persiapan buat ngampus aja.” Nasya berbohong dengan berat hati. Ya Allah maafkan hamba. Batin Nasya. “Ooh gitu. Iya deh. Ayah cuma mau ngasih tau kalau bulan ini Lina nggak bisa pulang. Katanya banyak tugas di pesantrennya.”
            “Padahal kangen banget sama Lina. Iya deh Yah gak papa.”  Nasya tersenyum. Andi memperhatikan wajah anak gadis pertamanya itu, ada yang berbeda disana. Belum pernah dilihatnya gadisnya sebahagia ini.
            Andi tersenyum menatap Nasya. Apa pun kebahagiaan kamu itu, Ayah pasti ikut senang. Ayah Cuma minta kamu jaga diri baik-baik. Batin Andi sembari mengelus lembut kepala Nasya. “Ya udah kamu lanjutin aja aktifitasmu. Ayah mau temani Al tidur.”
            Nasya mengangguk, lalu kemudian menatap kepergian ayahnya. Setelah lelaki yang amat disayanginya itu menghilang dibalik tembok pembatas, Nasya menutup pintu kamarnya. Lagi-lagi senyum manis itu tersungging disudut bibirnya.
Aku ini kenapa? Gini nih kalau cewek yang seumur hidupnya belum pernah dapat perhatian cowok, eh sekalinya diperhatiin rasanya itu senang banget! Ya memang ini kali pertama Nasya diperlakukan begitu manis oleh cowok yang bukan siapa-siapanya. Kalau dulu-dulu mah dilirik pun nggak. Para cowok hanya ngelirik yang bening-bening.
Kalau ada cewek cantik jatuh, pasti ditolongin. Sedangkan cewek kaya Nasya jatuh, diketawain mah iya! Tapi didalam penilain Nasya, Davi bukan type cowok seperti itu. Thanks banget Dav, kamu cowok terbaik dalam hidup aku. Terlalu cepat mungkin aku menilai kamu, tapi aku yakin itu. 

Rabu, 14 Maret 2018

Nasya #7

“Tak peduli berapa kali kamu gagal, yang harus dipeduliin berapa kali kamu bisa bangkit diatas kegagalan itu.”

Nasya menghembuskan nafas pelan. Panas matahari kota Jakarta semakin menampakkan sinarnya. Gadis itu menatap jam dipergelangan tangan kirinya sembari mendesah pelan. Masih ada lima belas menit waktu istirahat lagi. Bisiknya.
Nasya mengedarkan pandangan kesekeliling. Teman-teman barunya tengah asik menyantap makan siangnya sembari saling menyapa dan berkenalan ria, tapi tidak bagi dirinya.
Ia masih duduk sendiri diujung lapangan dengan rok hitam panjang sebatas mata kaki yang dipadukan baju putih kebesaran. Rambut gadis itu diikat dengan pita biru muda. Memang saat ini ia tengah menjalani OSPEK. Tradisi tahunan yang menurutnya tak jelas tujuannya apa.
“Nasya?” Sebuah suara cowok yang agak nge-bass menyebut namanya. Nasya menatap sumber suara, lalu kemudian tertegun saat mendapati seseorang yang dikenalnya tengah berdiri gagah dihadapannya.
Bibir gadis itu kelu, bahkan hanya untuk mengucapkan nama cowok dihadapannya ini. Suasana hiruk pikuk tidak membuat Nasya berpaling dari keterkejutannya. “Oh jadi lo kuliah disini juga?” Suara tajam itu seakan menohoknya.
Nasya menunduk. Entah kenapa rasa sakit itu kembali bermukim dihatinya, melemparkannya pada masa lalu yang benar-benar ingin dilupakannya. Cowok dihadapannya itu membuat bayangan masa lalunya kembali muncul. Dan saat ini juga, Nasya rasanya ingin sekali melenyapkan cowok itu dari bumi.
“Kok nggak jawab? Udah pincang, bisu lagi ya?” Cowok itu tersenyum sinis seakan mendapat mainan baru, tanpa ia sadari kata-katanya itu seperti pisau yang telah menusuk tepat diulu hati Nasya.

Selasa, 13 Maret 2018

Nasya #6

“Kamu nggak perlu jadi orang lain untuk diterima lingkungan. Cukup dengan menjadi dirimu sendiri dan tunjukkan prestasimu.”

Welcome September. Nasya membatin sembari tersenyum. Dipandanginya pagi dihari awal bulan September. “Semoga dibulan ini aku makin semangat buat ngejar cita-cita.” Nasya merentangkan kedua tangannya keatas. Tanda bersemangat.
September? Berarti bulan ini adalah bulan awal kuliah? OSPEK? Ah, berarti harus nyiapin semua peralatan OSPEK secepat mungkin. Alhamdulillah bisa lulus ilmu komunikasi di Harapan. Nasya menatap layar laptopnya yang memang dari sehabis subuh tadi ia biarkan hidup. Gadis itu sebenarnya ingin merampungkan novelnya, tapi entah kenapa sang ide belum juga muncul.
Nasya menghela nafas, lalu memutuskan untuk mematikan laptopnya dan meraih kunci honda beat putihnya. Gadis berwajah manis dengan lesung pipit dikedua pipinya itu melangkah menuju garasi.
“Mau kemana Sya?” Andi menatap Nasya dengan tanda tanya besar dikepala.
“Nasya pergi bentar ya, Yah? Mau beli-beli perlengkapan buat OSPEK nih. Bolehkan?” ujar Nasya lembut sembari tersenyum. Andi mengangguk pelan. “Al ikut ya kak?” Alfan berdiri disamping Andi sambil berharap bisa ikut. Nasya menatap Al, lalu kemudian tersenyum lagi.
“Boleh. Ayo. Yah, Sya pergi dulu ya?” Nasya menyalami punggung tangan ayahnya. Diikuti oleh Al. Dengan terpincang-pincang, Nasya mendekati honda beat putihnya sembari mengandeng Al disisi kirinya.

Senin, 12 Maret 2018

Nasya #5

“Mimpi tanpa tindakan hanyalah kesia-siaan. Mimpi tanpa tindakan hanyalah bunga tidur. Maka bermimpi dan bertindakhlah.”

Nasya merapikan meja makan. Tangan gadis itu cekatan membereskan piring bekas makan pagi ini. Nasya menghela nafas pelan, lalu kemudian tersenyum. Ia sadar apa yang ia lakukan untuk keluarganya akan dihitung pahala oleh Allah. Nasya sama sekali tak ingin mengeluh. Sebenarnya berusaha untuk tak mengeluh. Tak ingin pahala itu gugur begitu saja.
Nasya mematung sembari matanya dengan jalang menatap sekeliling rumahnya. Rumah yang menemani masa kecilnya. Rumah yang punya sejuta cerita tentang masa kecilnya. Nasya tersenyum saat didapatinya disetiap sudut rumah itu terdapat kenangan, tapi kini hanya tinggal kesepian.
Gadis berusia tujuh belas tahun itu tersadar, lalu kemudian kembali membereskan meja makan dan membawa piring-piring kotor kedapur. Hari ini aku pengen kepustaka wilayah. Pengen baca-baca buku berkaitan dengan jurusan yang aku ambil, persiapan buat masuk kuliah besok. Jadi pas kuliah nggak kagok-kagok banget.

Minggu, 11 Maret 2018

Nasya #4

“Mimpi adalah awal kesuksesan,maka rancanglah mimpimu. Hidup ini bukan let it flow. Kehidupan yang tidak dirancang akan membuatmu sulit menggapai kesuksesan.”

            Malam semakin merangkak naik seakan tak peduli akan sekitarnya. Nasya tengah berbaring diatas kasurnya. Mata gadis itu tak jua ingin terpejam. Entah apa yang tengah ada dipikiran gadis berusia tujuh belas tahun itu. Nasya menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Bayangan wajah seorang wanita yang sangat disayanginya lagi-lagi muncul.
            “Bunda, Nasya kangen. Bunda gimana kabarnya? Semoga baik-baik aja ya? Nasya janji bakal jagain ayah dan adik-adik.” Nasya menatap photo wanita separuh baya yang dipanggilnya Bunda.

            “Bunda, jangan tinggalin Nasya. Kami masih butuh bunda. bunda bangun!” Nasya menangis saat melihat jasad wanita yang sangat disayanginya terbujur kaku. Lagi-lagi hidup mempermainkan gadis itu dengan mengambil orang yang teramat disayanginya.
            Para tetangga dan keluarga mencoba menenangkan Nasya. Lita juga menangis disamping Nasya, sedangkan Al yang masih TK sama sekali tak mengerti apa yang tengah terjadi. Nasya menyusut air matanya, diraihnya tubuh Al dan dipeluknya erat. Air mata gadis itu terus saja turun.
            “Bunda, maafin Nasya yang belum bisa bahagiain bunda. Maafin Nasya yang sering banget nyakitin bunda. Maafin Nasya bunda.” Tubuh Nasya berguncang. Al menatap Nasya, lalu bocah kecil itu menghapus air mata yang jatuh dipipi Nasya.
            “Kak Sya kenapa nangis? Jangan nangis, Bunda udah di sulga.” Ucap Al polos. Mendengar ucapan polos Al, Nasya tersenyum hambar dan kemudian kembali menangis.

            Nasya tersentak. Kejadian masa lalu terus saja mampu memenuhi ruang otaknya. Menyedot semua perhatiannya. “Allah sayang bunda, makanya Allah ngambil bunda biar bunda nggak ngerasain sakit terlalu lama.” Nasya mencoba menenangkan hatinya, tapi kata-katanya barusan membuatnya kembali meneteskan air mata.
            Iya, Allah sayang bunda. Aku harus kuat kaya bunda. Aku harus sukses biar bikin bunda dan ayah bangga. Aku janji!
            Akh! Dan pada akhirnya penyakit itu telah merenggut bunda. Merenggut bunda dari kehidupanku. Bunda bukan dikalahkan penyakit itu, hanya saja mengalah. Bunda wanita yang kuat dan bunda adalah inspirasiku untuk terus bangkit.
            Nasya bangun dari tidurnya. Semua kejadian masa lalu berputar silih berganti bak tayangan layar lebar. “Pas kuliah ini aku harus berubah. Aku harus sukses! Aku harus terkenal dan bisa membuktikan ke orang-orang yang udah ngeremehin aku kalau aku ini bukan nol. Aku capek diremehin terus. Aku harus sukses untuk orang-orang yang aku sayang!” ucap Nasya pelan namun dengan keyakinan yang kuat.
            “Aku harus sukses! Aku harus buktikan kemereka!” Nasya meraih sebuah buku kosong dan sebuah pena. Lama ditatapnya buku itu, lalu kemudian dituliskannya ‘Dreams note’ dihalaman pertama buku bersampul hijau itu.
Buku ini akan menjadi saksi perjalanan hidupku. Tentang mimpi-mimpi yang dengan segenap jiwa dan tetesan keringat akan kuraih. Aku akan buktikan kemeraka bahwa aku bukan ‘nol’! Mungkin sekarang aku nobody, tapi nanti aku janji akan menjadi somebody. Mungkin sekarang aku zero, tapi nanti aku hero.
            “Aku harus sukses.” Nasya mulai menuliskan mimpi-mimpinya dibuku itu.

Bismillah. Kutuliskan dibuku ini mimpi-mimpiku Ya Allah. Semoga mimpi-mimpi ini dapat terwujud dengan keyakinan, usaha, plus do’a yang selalu ku haturkan. Aku sadar kalau aku bukan siapa-siapa didunia ini, tapi aku janji untuk ngebungkam orang-orang yang pernah nyakitin perasaanku dan perasaan orang-orang yang aku sayang. Ini dia mimpi-mimpiku. Mimpi seorang Nasya Talitha Azalia :
1.    Aku ingin menjadi penulis. Penulis yang menginsfirasi banyak orang. Penulis yang karyanya selalu dinanti-nanti. Penulis yang diundang untuk mengisi talkshow atau bedah buku, sehingga aku bisa  keliling dunia dengan hanya menulis. Penulis yang punya banyak uang, sehingga aku bisa menyekolahkan kedua adikku dan membahagiakan ayahku. Cara yang harus aku tempuh adalah dengan menyempatkan untuk menulis minimal sehari dua halaman dan kalau ada waktu luang, isi dengan kegiatan menulis.
2.    Nanti pas kuliah punya IP dan IPK yang tinggi. Aku orangnya pemalu dan pas kuliah nanti aku harus aktif dikelas. Mengerjakan tugas dari dosen dengan sebaik-baiknya. Pokoknya ubah mindset dan cara belajar! Membaca juga adalah hal yang dibutuhkan.
3.    Pas kuliah aktif di organisasi. Dari dulu aku suka banget dengerin radio, bahkan pengen nyoba jadi penyiar radio. Menurut aku jadi penyiar itu asik dan keren. Nanti kalau udah kuliah, aku pengen gabung dengan organisasi radio.
4.    Nanti pas kuliah harus bisa nyari uang semesteran sendiri supaya bisa bayar uang kuliah sendiri. Aku sadar kalau aku bukan terlahir dari keluarga kaya, makanya aku harus berjuang untuk membantu keuangan keluarga. Nanti mau jualan aja. Jualan pulsa atau jualan lainnya.

Nasya menatap empat impian itu. Empat impian yang menurutnya sudah mencakup impian-impian lainnya. Sekali lagi dibacanya setiap tulisan yang ia torehkan dilembaran buku dreams note itu.
Gadis itu tersenyum, lalu kemudian ia baringkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan menggenggam buku bersampul hijau. Aku akan berusaha! Aku janji. Semua ini aku lakuin untuk ayah, untuk almarhumah bunda, untuk adik-adik, dan untuk pembuktian kepada mereka yang pernah meremehkanku
“Aku harus sukses! Ya Allah izinkan aku untuk sukses semuda mungkin, agar aku bisa mencetak senyum diwajah orang-orang yang aku sayang dan membungkam mulut orang yang pernah nyakitin perasaan aku.”
*@muthi*
Atar memain-mainkan senar gitarnya dengan nada absurd. Suara sumbang dari nada gitar itu memenuhi ruang kamar lelaki itu. Dengan dengusan kesal, lelaki blasteran Sunda-Arab itu meletakkan gitarnya. Atar meraih hp-nya. Sebuah SMS masuk membuat lelaki itu tersenyum membacanya.

From : My Hello Kitty
Sayang, lagi apa? Kangen ({})

            Sama sekali Atar tak berniat membalasnya. Bukan nggak peduli, hanya saja lelaki itu kurang suka bersms-an ria. Bayangan wajah seorang gadis muncul dibenaknya, membuat senyum terukir dibibir lelaki itu. Gadis yang hampir membuatnya setengah gila dan gadis itu sangat mencintai hello kitty, karna itu Atar memanggilnya Kitty.

            “Eh, lo tau nggak kalau disini tempat parkir khusus untuk gue? Cepat pinggirin motor lo!” Atar berdiri sembari berkacak pinggang. Dihadapannya seorang gadis dengan jepitan biru dirambutnya juga ikut-ikutan berkacak pinggang dengan wajah dibuat kesal. Tapi kekesalan diwajah gadis itu malah menambah keimutannya.
            “Heh! Lo pikir ini sekolah nenek moyang lo apa? Gue mau parkir disini ya suka-suka gue dong!” Dengus gadis itu dengan berani. Seolah tak takut dengan keberadaan Atar. Atar menyipitkan matanya sambil menatap gadis itu dari atas sampai bawah dengan tatapan sinis.
 “Lo anak baru ya?” tanya Atar masih dengan pandangan sinisnya.
            “Bukan urusan lo!” Cewek itu berlalu dengan angkuhnya. “Sialan tu cewek! Berani banget sama gue. Nggak tau siapa gue dia!” Atar memandangi kepergian cewek itu.
“Ahaha! Siapa tuh cewek. Berani banget sama lo bro!” Rei yang melihat kejadian itu dari kejauhan menghampiri Atar dengan tawa yang tersungging diwajahnya. “Eh diam lo atau mulut lo gue bogem!”
            “Weis, santai bro! Masa gasgter sekolah kalah dengan satu orang cewek. Eh, itu cewek cantik juga ya?” Rei kembali meledek Atar. Yang diledek menatap dengan tatapan geram. Tangan Atar menempeleng kepala Rei, lalu Atar berlalu meninggalkan Rei.

            Lagi-lagi cowok blasteran itu tersenyum saat tayangan masa lalu menyapanya. Awal perkenalannya dengan si Hello Kitty. Perkenalan yang bukan romantis. Hello Kitty adalah cewek kedua yang mampu mengetuk pintu hati Atar dan memasukinya. Bahkan sampai saat ini masih bermukim dihatinya. Atar meraih gitarnya. Memainkan senar gitar itu dengan melodi yang indah.
            “Kurasa ku sedang dimabuk cinta. Nikmatnya kini ku dimabuk cinta. Dimabuk cin— Aish. Astaga! Kenapa gue jadi alay gini?” Atar tersadar dengan nyanyiannya, lalu kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
            “Gara-gara lo sih Kitty! Gimana kabar lo sekarang? Kangen banget gue. Entar gue sempetin deh nyuri waktu buat nemuin lo.” Atar menatap sebuah photo diatas meja belajarnya. Lelaki itu kemudian tersenyum.
            Ia sama sekali tak menyangka bahwa gadis yang dulu pernah jadi musuhnya itu adalah gadis yang ternyata berhasil masuk kehatinya. Masuk dan mengunci hatinya hingga tak ada yang bisa mengetuk hatinya lagi, bahkan untuk singgah pun tidak.
*@muthi*
            Fian mendorong kopernya keluar kamar dengan setengah malas. Ekspresi lelaki itu susah digambarkan. Wajah sawo matang plus keangkuhan yang tercetak jelas diwajah itu membuat siapa saja yang melihatnya akan terpana.
Fian memang ganteng, walau kulitnya sawo matang. Fian menoleh kekanan saat mendapati Kafta tengah menatapnya. “Kenapa?” tanyanya ketus. “Lo mau kemana kak?” Kafta memandang sang kakak dengan tatapan sedih. Ia tak bisa membohongi perasaannya bahwa ia sangat kehilangan Fian.
Seselengean apa pun seorang Fian, bagi Kafta Fian segalanya. Fian orang yang paling mengerti dirinya. Fian orang yang selalu ada saat ia sedih. Sejak kecil, Fianlah orang yang melindunginya. Memarahi siapa saja yang menyakitinya. Memanjat pohon mangga untuknya. Bermain salju bersamanya. Fian adalah sosok kakak yang sangat bertanggung jawab baginya.
            “Kan gue disuruh ngungsi ke Indonesia. Gimana sih lo? Lupa?” Fian masih terlihat ketus.  Kafta memandangi Fian tepat dibola matanya. Gadis itu mencoba mencari rasa sayang yang dulu ada untuknya dari bola mata hitam itu. Kafta mendengus kesal saat apa yang dicarinya tidak ia temukan. Sebegitu berubahnya lo kak?
            “Ngapain masih bengong disitu? Mending masuk kamar sana!” Fian mengusir. Kafta menghela nafas pelan, lalu melangkah menuju kamarnya. Gue bakal ngerinduin lo kak. Gue kangen lo yang dulu. Apa keadaan keluarga kita emang benar-benar udah berubah? Kenapa waktu begitu cepat ngerubah lo? Ngerubah papa dan mama? Kafta berguman didalam hati.
            Fian memandangi kepergian Kafta. Ada sedikit rasa bersalah didirinya. Maafin gue dek. Gue sayang sama lo. “Jadi kamu pergi sekarang? Papa udah siapian semuanya.” Rico menghentikan lamunan Fian. Fian tersentak, lalu menoleh kearah sang papa.
            “Lebih cepat lebih baik,” ujar Fian seadanya. Rico mengangguk, lalu mengulurkan tiket pesawat. Fian meraih tiket pesawat itu. “Fi pergi dulu,” ucap Fian tanpa menoleh sedikit pun pada Rico.
Rico menghela nafas sambil menatap kepergian anak laki-lakinya. Papa ngelakuin ini karna papa nggak mau kamu bergaul dengan teman kamu yang nggak benar. Papa khawatir sama kamu. Kamu anak laki-laki papa satu-satunya. Kamu yang akan meneruskan perusahaan yang udah papa rintis dari nol.

Sabtu, 10 Maret 2018

Nasya #3

“Allah have a best plan for us. Percaya dan yakinlah.”

Adzan Isya berkumandang dengan merdunya, membuat siapa saja yang mendengarkannya merinding. Nasya tertegun, lalu kemudian memberikan senyum khasnya pada Al. “Dek, udah adzan. Sholat dulu yuk? Allah udah manggil kita tuh.”
            “Bentar lagi nih kak. Nanggung belajar membacanya.” Al protes sambil memegang buku belajar membaca ABC-nya. Nasya membelai lembut rambut Al.
            “Nanti aja disambung. Kan udah adzan tuh. Al, kalau ibu guru manggil, Al cepet nggak datang ke ibu guru?” tanya Nasya. Al memandang dengan tatapan tak mengerti. “Cepet. Kalau nggak nanti ibu guru marahlah kakak.”
            “Nah gitu juga Allah dek. Masa Allah manggil, kita malah nggak datang cepat kan? Emang mau Allah marah?” Entah untuk yang keberapa kalinya Nasya tersenyum tulus kearah sang adik. Al tampak tengah berfikir. Bocah kecil itu seakan mencoba mencerna setiap kata-kata yang diucapkan oleh kakaknya.
            “Iya sih kak. Ya udah, ayo sholat!” Al bersemangat sembari menaruh buku belajar membacanya diatas meja. Nasya tersenyum melihat tingkah polah adik kesayangannya itu, lalu kemudian berdiri dengan agak kesusahan. Nasya mengikuti Al menuju WC.

Nasya #2


“Disaat satu pintu tertutup, masih ada pintu lain yang terbuka. Selalulah optimis!”

            Kafta masih asik berkutat dengan gitarnya. Senandung lirih nan merdu keluar dari bibir mungil gadis itu. Sesekali ujung mata gadis itu melirik jalanan kota Tokyo yang tak pernah sepi. Lampu-lampu malam berkelap-kelip dan bangunan besar berdiri seolah menantang dengan begitu megahnya.
            “Sumpah gue kesel banget!” Seorang lelaki ganteng berkulit sawo matang memasuki kamar Kafta dan merebahkan tubuhnya ke shofa. Kafta menatap sekilas, lalu kembali asik dengan gitarnya. “Kaf? Lo dengerin gue nggak sih?”

Nasya #1


Pernah ngerasa hidupmu selalu sial? Pernah ngerasa saat kamu selalu berada di posisi terbawah? Pernah merasakan yang namanya dihina, diremehkan, bahkan dianggap jijik? Ya semua itu pernah aku rasakan. Sakit? Pasti! Nasya membatin dalam khayalnya. Tangan dan mata gadis itu tertuju pada novel, tapi sama sekali tak ada niat untuk membacanya.
Nasya masih asik terpaku dengan novel ditangannya. Sesekali gadis berkulit putih berwajah manis itu meringis pelan. Nasya berdehem, lalu melirik jam dinding yang menempel gagah didinding kamarnya. 11.45. Gumannya.
“Kak Sya! KAK SYA!” Sebuah panggilan yang cenderung lebih mirip teriakan membuat Nasya tersentak dari keasikannya dan menoleh kearah sumber suara. Senyum tipis Nasya tercetak saat melihat adik bungsunya yang masih mengenakan seragam putih-merah dan menyandang ransel berdiri diambang pintu kamarnya.
Nasya meletakkan novelnya diatas meja. Diseruputnya sedikit teh hangat yang tadi belum sempat dinikmatinya dan kemudian gadis itu berjalan kearah sang adik. “Udah pulang ya? Kok nggak ucapin Assalamua’laikum?” Nasya mengelus lembut kepala Alfan—adiknya.
“Udah tadi, kak Sya aja yang nggak denger.” Al cemberut. Nasya tersenyum gemas. Dicubitnya pelan pipi bocah kecil yang masih duduk dikelas satu SD itu. “Kak, Al laparlah.” Al mengelus perut kecilnya.
“Ya udah, Al sholat dzuhur dulu. Sekarang kakak bakal masakin ayam goreng kesukaan Al, gimana?” Al mengangguk setuju, lalu kedua kakak beradik itu bertosh ria. Hal yang sering mereka lakukan. Al berjalan gontai meninggalkan Nasya, sedangkan Nasya memandangi tubuh kecil Al yang kian menghilang.